Program Penyu Untuk Indonesia

Tanggal 19-20 Maret 2011 Redaksi National Geographic Indonesia dan beberapa Volunteer melakukan kunjungan ke Balai Konservasi Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Center) Ujung Genteng Sukabumi – Jawa Barat.

Kunjungan ini dalam rangka Program Penyu Untuk Indonesia yang bertujuan untuk kampanye perlindungan penyu yang hampir punah. Di sana kami disambut oleh Bapak Janawi yang merupakan Kepala Bidang Tata Usaha Balai Konservasi Penyu Pangumbahan.

Sebagai warga negara Indonesia harus bangga karena dari 7 spesies penyu di dunia ini, 6 spesies ada di Indonesia. Ketujuh jenis penyu yang masih bertahan, adalah:

  • Penyu Hijau (Chelonia mydas)
  • Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata)
  • Penyu Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi)
  • Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea)
  • Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea)
  • Penyu Pipih (Natator depressus)
  • Penyu Tempayan (Caretta caretta)

Dari ketujuh jenis ini, hanya penyu Kemp’s ridley yang tidak pernah tercatat ditemukan di perairan Indonesia.

Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 – 8 tahun sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut, betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising dan cahaya sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu, dalam lubang yang digali dengan sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara dapat membuat penyu mengurungkan niatnya dan kembali ke laut.

Tukik, anak penyu yang siap dilepaskan ke lautan.

Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam.

Di tempat-tempat yang populer sebagai tempat bertelur penyu biasanya sekarang dibangun stasiun penetasan untuk membantu meningkatkan tingkat kelulushidupan (survival). Di Indonesia misalnya terdapat stasiun penetasan di:

  • Pantai Selatan Jawa Barat (Pangumbahan, Cikepuh KSPL Chelonia UNAS)
  • Pantai Selatan Bali (di dekat Kuta)
  • Kalimantan Tengah (Sungai Cabang FNPF)
  • Pantai Selatan Lombok
  • Jawa Timur (Alas Purwo)
  • Bengkulu (Retak ilir Muko-muko)
  • Pulau Cangke Kabupaten Pangkep Prov. Sulawesi selatan

Dalam laporan Conservation International (CI) yang diumumkan pada simposium tahunan ke-24 mengenai usaha pelestarian penyu diKosta Rika disebutkan, banyaknya penyu belimbing turun dari sekitar 115.000 ekor betina dewasa menjadi kurang dari 3.000 ekor sejak tahun 1982. Penyu belimbing telah mengalami penurunan 97% dalam waktu 22 tahun terakhir. Selain itu, lima spesies penyu juga beresiko punah, meski tidak dalam jangka waktu yang singkat seperti penyu belimbing.

Proses penyu bertelur

Untuk memudahkan pendataan, penyu yang mendarat akan diberi tanda plat penomoran (taging) dari logam yang dipasang pada bagian (selangkangan) kaki depan penyu.

Hampir semua jenis penyu termasuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi oleh undang-undang nasional maupun internasional karena dikhawatirkan akan punah disebabkan oleh jumlahnya makin sedikit. Di samping penyu belimbing, dua spesies lain, penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conservation Union (IUCN). Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang atau penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), dan penyu tempayan atau loggerhead (Caretta caretta) digolongkan sebagai terancam punah. Hanya penyu pipih (Natator depressus) yang diperkirakan tidak terancam.

Sebagian orang menganggap penyu adalah salah satu hewan laut yang memiliki banyak kelebihan. Selain tempurungnya yang menarik untuk cendramata, dagingnya yang lezat ditusuk jadi Sate penyu berkhasiat untuk obat dan ramuan kecantikan. Terutama di Tiongkok dan Bali, penyu menjadi bulan-bulanan ditangkap, disantap, tergusur dari pantai, telurnyapun diambil. Meski sudah ada Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pelestarian Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang melindungi semua jenis penyu, perburuan terhadap hewan yang berjalan lamban ini terus berlanjut. Untuk mencegah kepunahan penyu, terutama penyu belimbing, beberapa negara telah melindungi tempat bertelur penyu. Salah satunya adalah di Jamursba Medi, yang terletak di pantai utara Irian. Pantai itu baru-baru ini ditetapkan sebagai wilayah konservasi.

Area Penetasan, telur-telur penyu yang ada dipantai dipindahkan ke tempat penetasan untuk menyelamatkan telur dari predator.

Telur yang disimpan di area penetasan ini disimpan secara terpisah.

Masing-masing lubang diberi patok yang diberi label nama petugas, jumlah telur dan tanggal pemindahan

Tukik yang baru menetas

Telur yang gagal menetas. Telur gagal menetas bisa disebabkan karena salah penanganan pada saat memindahkan telur atau keadaan telurnya yang memang tidak sempurna.

Tukik yang siap mengarungi lautan lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s