Ngertakeun Bumi Lamba

Gunung Tangkuban Parahu,  26 Juni 2011  (4 Kapitu 1993 Suryakala)

Ngertakeun Bumi Lamba, artinya Mensejahterakan Kehidupan Bumi Alam, seperti yang diamanatkan Sang Prabu Siliwangi 1482-1521M, dalam Sanghyang Siksa Kanda’ng Karesian. Upacara ini sebagai salah satu bentuk dari kearifan lokal masyarakat adat dalam berhubungan dengan alam yang mendesak manusia untuk mengubah sikapnya terhadap lingkungan, yaitu dengan berusaha kembali untuk lebih arif dalam memperlakukannya seperti yang telah dilakukan oleh leluhur sejak dulu.

Upacara Ngertakeun Bumi Lamba adalah upacara untuk menjalankan pesan kasepuhan (orangtua adat) dari Kanekes, yang menitipkan 3 (tiga) Gunung, sebagai Pakualam (harus diperlakukan sebagai tempat suci yang penting bagi warga adat yang mengakui dirinya Urang Bandung), yaitu Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Wayang dan Gunung Gede sebagai tempat ‘Kabuyutan’ (sumber air, makanan atau juga leluhur). Inti upacara adalah untuk berterima kasih dan mengingatkan kepada setiap orang bahwa kesucian gunung adalah sumber utama makhluk di sekitar gunung tersebut. Gunung adalah pakuan bumi di semesta ini. Gunung menjadi sumber nilai spiritual dan budi pekerti yang mendasari perilaku yang berbudaya bagi umat manusia di muka bumi. Sebagaimana nama SUNDA yang melekat pada Gunung Tangkuban Parahu (Purba Kancana Parahyangan). Maka dari itu upacara tahunan ini dilakukan di puncak Gunung Tangkuban Parahu. Bertepatan dengan perjalanan matahari yang baru mulai kembali dari paling utara bumi menuju selatan, yaitu di setiap bulan ‘kapitu'(bulan ke 7), dalam hitungan suryakala, kala ider (kalender) sunda.

Sebelum liputan, rencananya kami ingin motret sunrise dulu  di Gunung Tangkuban Parahu, sengaja setelah subuh kami bergegas berangkat menuju Gunung Tangkuban Parahu. Tapi sayang, portal pintu masuk ke Kawah masih di tutup, akhirnya kami nunggu di warung sambil sarapan. Pkl. 07.00 WIB kami baru bisa masuk ke lokasi.

Ritual Ngertakeun Bumi Lamba ternyata baru akan dimulai pada pkl. 10.00 WIB. Sambil menunggu, kamipun berbaur  berbincang-bincang dengan panitia dan beberapa peserta ritual. Ada Kang Asep, Kang Deni, kemudian ada A Ende wakil dari Kasepuhan Ciptagelar, A Ende ini merupakan adiknya Abah Ugi (Abah Ugi adalah anak sekaligus penerus Abah Anom). Acara ini dihadiri oleh beberapa komunitas, antara lain dari Kamandaka, Dayak Losarang, Kampung Adat Cireundeu, Umat Pura Kertha Jaya dan Masyarakat umum.

Acara dimulai dengan “JAJAP PARAWANTEN” yaitu bersama-sama beriringan menuju lokasi dengan membawa sesajen yang ditata di dalam tandu khusus (JAMPANA). Lokasi ritual dilaksanakan di antara Kawah Ratu dan Kawah Upas. Jarak Kawah Ratu ke Kawah Upas sekitar 1,2 KM. Mereka berjalan menapaki jalan-jalan kerikil sambil membawa Jampana. Di belakang Jampana rombongan lain mengikuti seraya membawa alat-alat musik seperti tetabuhan, Angklung Buhun dan Karinding. Perjalanan menuju lokasi yang lumayan terjal cukup menyulitkan pembawa tandu sesajen.

Terjalnya perjalanan tak menghalangi rombongan mencapai Kawah Upas. Mereka pun saling bahu membahu membawa sesaji hingga puncak dan dilanjutkan dengan ritual “NGALINGGIHKEUN PARAWANTEN” yaitu menempatkan sesajen di tempat yang sudah disediakan, semua peserta duduk melingkar dan disaat yang sama wakil dari Kanekes (Baduy Dalam) melakukan “KOLOT NUMBALAN” (membakar menyan). Setelah semua peserta ritual duduk tertib, meditasi dimulai dengan pembacaan “RAJAH PAMUKA” oleh Jaro Rajah diiringi dengan musik kecapi suling.

Acara ritual lanjutannya antara lain “RAJAH NUSANTARA SABUANA” Angklung buhun dari baduy dibunyikan berkeliling memutasi area upacara, alat musik lainnya menyusul, ada kacapi suling, karinding, celempung tunggal dan toleat. Lanjut dengan “IBING SANGHYANG ISMAYA(WISNU), IBING ASIH SANGHYANG SRI POHACI (DEWI SRI) dan sebagai puncaknya acara ditutup dengan RAJAH PAMUNAH.

Gunung Tangkuban Parahu

Menyusun sesajen di tandu khusus (Jampana)

Peserta ritual berasal dari berbagai suku dan agama

Perjalanan menuju lokasi ritual

Melewati jembatan bambu

Jembatan bambu yang sempit cukup menyulitkan para pembawa tandu

Meskipun perjalanan cukup sulit tapi peserta ritual tetap semangat.

Perserta duduk melingkari area ritual

Membakar kemenyan

Peminpin ritual

Pemain musik angklung buhun dari Kanekes (Baduy)

Pemain angklung mengelilingi area ritual

Memainkan musik karinding

Tarawangsa dari Ranca Kalong Subang

Lokasi ritual berada diantara Kawah Ratu dan Kawah Upas

6 thoughts on “Ngertakeun Bumi Lamba

  1. semua upacara dibuat, entah dulu entah baru. ‘sunda’ land, adalah yang kemudian sebagian darinya di sebut ‘nusantara’.
    semua berpusat disekitar gunung sunda purba, yang kini sisanya cekungan bandung, dan ‘para hu(hyang)’ ber ‘tangkub’ (mengumpul), di gunung “tangkuban parahu”.
    bisa dimengerti tentang sunda?
    “ngertakeun bumi lamba” dalam pantun bogor adalah upacara yang pernah di diselenggarakan negara…
    dan ini rekronstruksinya.

    • Hatur nuhun Kang Gin Gin…Acara ieu aya deui iraha?…

      Simkuring hawatos pisan waktos ngadangu obrolan peserta + panitia “nu ngaku urang sunda, nu ngaku karuhunna urang sunda”, sunda vs sunda tp nyarios sunda pabaliut pacampur sareng indonesiaan …^_^…

      • sawalerna pribados oge ngahaturkeun sewu nuhun, ku bewara nu ngaguar gelar upacara ieu, disarengan ku gambar anu sakitu ahengna. atuh, pribados ge ah mulung we gambar teh…
        tahun ieu bakalan di adegkeun deui ping 23-24juni.2012.
        keun, perkawis aya anu “pabaliut”, da urang dayeuh atuh (urban culture). ari kedal manah anu sangetna mah tinu ajen rasa dina jiwa gelarna, sunda dina wilahan sajembarna, atanapi cahayana,
        sunda nu ngamparan indonesia, anu nyampak “sunda teh wareh dunya” (pantun aki baju robeng).

      • kagok pacampur, urang dayeuh bandung mah, aya nu ku arab, ku inggris, komo ku indonesia mah. aya sagala bangsa anu nyeuseup kahuripan di dayeuh bandung mah. da bongan patilasan “gunung sunda purba”. puser para hyang, matak kabuyutana, nya eta gunung tangkuban parahu di bukakeun ngarah dimumule ku nu ragam. panyundaan, “nyampurnakeun, nu geus pacampurna”. kusaha deui atuh mun sanes ku urang sunda prakna “silihwangian” sareng ngadegkeun jiwa sa”pajajaran”na.
        hayu urang ugakeun ku urang nu hirup dina jaman ieu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s