Wayang Kampung Sebelah

Wayang Kampung Sebelah

Dari acara Festival Pesisir Pelabuhan Sunda Kelapa saya melanjutkan perjalanan ke Kota Tua, kebetulan di sana masih ada Festival Wayang 2011 dan hari minggu adalah hari terakhir kegiatan Festival Wayang.

Tiba di sana tampak beberapa anak Sekolah Dasar sedang belajar membuat wayang dari jerami. Setelah itu acara berikutnya adalah pagelaran Gambang Kromong, Wayang Cepak Tegal, Barongsai dan Wayang Kampung Sebelah. Gambang Kromong, Wayang Cepak Tegal dan Barongsai bukanlah suatu tontonan yang baru bagi saya. Tapi ketika mendengar Wayang Kampung Sebelah saya penasaran, belum pernah lihat sebelumnya.

Pukul 16.00 WIB, Pagelaran Wayang Kampung Sebelah dimulai, penonton mulai memadati area depan panggung. Wayang Kampung Sebelah ternyata tidak seperti Wayang lain seperti pada umumnya. Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah tidak menggunakan iringan musik gamelan, melainkan menggunakan iringan musik modern. Lagu-lagu iringannya lebih banyak menyajikan lagu-lagu karya musisi Wayang Kampung Sebelah yang bertujuan untuk memperkuat karakter pertunjukan.

Tokoh-tokoh wayang seperti Arjuna, Semar, Astrajingga atau Gatot Kaca tidak akan ditemukan di sini, karena tokoh-tokoh wayang di sini seperti halnya tokoh masyarakat plural jaman sekarang, ada penarik becak, bakul jamu, preman, pelacur, pak RT, Pak lurah, hingga pejabat besar kota. Muatan sinisme, satire, hingga kritik tajam yang begitu dominan dalam pertunjukan ini dikemas secara segar penuh humor, baik melalui format alur, penokohan, dialog, maupun syair lagu iringan. Saya dan penonton lain sangat merasa terhibur dengan pementasan wayang ini…kocak abis…

Wayang Kampung Sebelah diciptakan oleh Jlitheng Suparman bersama beberapa seniman Solo pada tanggal 16 Juli 2000. Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah berangkat dari keinginan membuat format pertunjukan wayang yang dapat menjadi wahana untuk mengangkat kisah realitas kehidupan masyarakat sekarang secara lebih lugas dan bebas tanpa harus terikat oleh norma-norma estetik yang rumit seperti halnya wayang klasik. Dengan menggunakan medium bahasa percakapan sehari-hari, baik bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia, maka pesan-pesan yang disampaikan lebih mudah ditangkap oleh penonton. Isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat masa kini, baik yang menyangkut persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan, merupakan sumber inspirasi penyusunan cerita yang disajikan.

Wayang Kampung Sebelah dipimpin oleh Mas Jlitheng Suparman yang merupakan Dalang sekaligus Penulis Naskah, dibantu oleh seniman lainnya antara lain Yayat Suheryatna (Jimbe / Penata Iringan), Max Baihaqi (Gitar / Ass. Penata Iringan), Agung Riyadi (Flut), Nadias (Bas), Gendhot (Sexofon), Gusur (Drum), Kukuh (Kendang), Joko Ngadimin (Vokal), Dwi Jaya Syaifil Munir (Vokal), Cahwati (Vokal) dan Sarno B (Penata Teknis).

Pementasan Wayang diawali dengan nyanyian kritik sosial.

Interaksi dengan penonton

Pak Hansip, Pak Lurah dan Si Kampret adalah contoh penokohan wayang yang merupakan tokoh-tokoh plural dalam masyarakat sehari-hari.

Mas Jlitheng Suparman yang merupakan pencetus Wayang Kampung Sebelah, Dalang sekaligus Penulis Naskah.

Flut, Drum, Gitar dan Bass adalah beberapa alat musik pengiring pementasan wayang, bukan memakai gamelan.

Sang Dalang

Dari belakang panggung

3 thoughts on “Wayang Kampung Sebelah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s