Kasepuhan Banten Kidul

Kasepuhan Banten Kidul adalah kelompok masyarakat adat Sunda yang tinggal di sekitar Gunung Halimun, terutama di wilayah Kabupaten Sukabumi sebelah barat hingga ke Kabupaten Lebak, dan ke utara hingga ke Kabupaten Bogor. Kasepuhan menunjuk pada adat istiadat lama yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkup beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat.

Sejarah Kasepuhan Kesatuan Adat Banten Kidul

Sejarah adanya Masyarakat Adat berdiri pada Tahun 611 M bertempat di Sajira Banten. Dengan lama kepemimpinannya adalah 500 Tahun, Pemimpin yang pertaman bernama ABAH AGUNG. Pada Tahun 1.100 M, pindah ke Limbang Kuning. Di Limbang Kuning sampai Tahun 1.400 M disitu tidak ada keturunan . Diakhir Tahun 1.400 m barulah ada keturunan Pertama bernama AKI BUYUT BAO ROSA, dan istrinya bernama AMBU SAMPIH. Selama 150 Tahun dia bertempat di Cipatat Bogor. Dari Cipatat berpindah lagi ke Maja. Setelah beliau wapat, Kasepuhan diteruskan oleh anaknya yang bernama AKI BUYUT WARNING dan istrinya bernama NINI BUYUT SAMSIAH. Beliau menjadi Kasepuhan selama 202 Tahun di Maja lalu pindah ke Lebak Larang.

Tiga Tahun diLebak Larang, beliau meninggal. Kasepuhan diteruskan oleh AKI BUYUT KAYON Tempat pun berpindah ke Lebak Binong selama 27 tahun. Diakhir hayat AKI BUYUT KAYON, generasi penerusnya saat itu belum dewasa yang bernama AKI BUYUT CEBOL, sehingga kepemimpinan Kasepuhan diwarnen* oleh AKI BUYUT SANTAYAN di Pasir Talaga. Selama 23 Tahun AKI BUYUT SANTAYAN memimpin. *Warnen adalah orang yang diserahi menjadi Pemangku adat karena penerusnya belum dewasa.

Dimasa AKI BUYUT CEBOL dewasa barulah beliau menjadi pemimpin Kasepuhan. Beliau bertempat di Tegal Lumbu selama 32 Tahun, dan diteruskan oleh UYUT JASIUN lalu pindah ke Cijangkorang. Disitu tidak lama hanya 7 Tahun beliau pindah ke Bojong selama 17 Tahun.

Setelah UYUT JASIUN wafat, pemimpin kasepuhan digantikan oleh penerusnya yaitu UYUT RUSDI. Pada Tahun 1940 UYUT RUSDI pindah ke Cicemet. Di Cicemet, UYUT RUSDI membuka hutan menjadi pemukiman. 16 Tahun kemudian, beliau berpindah lagi ke Sirnaresmi tahun 1956, dan pada tahun 1960 beliau wafat. Kasepuhan diganti Oleh ABAH ARJO. Selang waktu 15 tahun ABAH ARJO pun pindah ke Ciganas dan hanya 7 Tahun di Ciganas kemudian beliau wapat pada tahun 1982. Kasepuhan waktu itu digantikan oleh ABAH ENCUP SUCIPTA ( ABAH ANOM ). Tahun 1983 Beliau pindah ke Ciptarasa selama 17 Tahun.

Pada tahun 1985 Kesepuhan terpecah menjadi dua, yaitu :

1. Kasepuhan Ciptarasa ( Abah Anom )

2. Kasepuhan Sirna Resmi ( Abah Ujat Sujati )

Tahun 2000 ABAH ANOM pindah ke Ciptagelar. Pada Tahun 2002 ABAH UJAT SUJADI meninggal dunia dan pada waktu itu pula Kasepuhan Sirna Resmi menjadi dua kasepuhan, yaitu :

1. Kasepuhan Sinar Resmi ( Abah Asep Nugraha )

2. Kasepuhan Ciptamulya ( Abah Uum Sukmawijaya)

Pada Tahun 2007 ABAH ANOM meninggal dunia dan Kasepuhan Ciptagelar dilanjutkan oleh anaknya yaitu ABAH UGI SUGRIANA RAKASIWI.

Sejak tahun 2002 Kasepuhan menjadi tiga, yaitu :

1. Kasepuhan Ciptarasa ( Abah Anom )

    * Kasepuhan Ciptarasa lanjut ke Kasepuhan Ciptagelar ( Abah Ugi )

2. Kasepuhan Sinar Resmi ( Abah Asep nugraha )

3. Kasepuhan Ciptamulya ( Abah Uum sukmawijaya )

Kasepuhan Sinaresmi, Ciptagelar dan Ciptamulya adalah perkampungan adat yang terletak di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok ,Kabupaten Sukabumi. Orang-orang dari kota atau dari luar tidak pernah ada yang menyebut Kaolotan atau bisa jadi mereka juga tidak tahu apa itu Kaolotan. Perkampungan Komunitas masyarakat adat ini merupakan salah satu masyarakat adat yang melakukan kehidupan sehari-harinya berdasarkan aturan adat. Kebiasaan kehidupan mereka sehari-hari, selalu bercermin kepada hukum adat atau aturan adat. Karena setiap kehidupan mereka sehari-hari telah diatur dalam hukum adat atau aturan adat. Tetapi apabila mereka tidak mentaati atau melanggar aturan adat, maka mereka akan kualat (Kabendon).

Ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan oleh masyarakat adat Kasepuhan yaitu bertani. Bertani merupakan mata pencaharian mereka sehari-hari, mulai dari bertani disawah, ladang dan kebun. Untuk Pertanian yang menjadi prioritas mereka yaitu untuk pesawahan.

Alam adalah salah satu kebutuhan warga Adat. Warga adat Kasepuhan tidak bisa hidup tanpa adanya alam. Alam sangat berguna bagi warga adat Kasepuhan, contohnya hutan. Hutan, selain menghasilkan air, juga sebagai sumber obat-obatan tradisional dan sebagai mata pencaharian bagi warga masyarakat adat kasepuhan. Air juga digunakan untuk mengairi pesawahan yang ada di sekitar warga adat Kasepuhan. Mata pencaharian utama warga adat kasepuhan yaitu bertani terutama untuk pesawahan dan berladang merupakan pekerjaan  sampingan. Warga adat Kasepuhan pekerjaan utamanya bertani di pesawahan dan itu memerlukan air. Oleh karena itu masyarakat adat sangat menjaga kelestarian hutan yang merupakan sumber penghidupan bagi mereka. Dalam kelembagaan adat, telah diatur tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh warga adat kasepuhan. Ngajaga leuweng adalah merupakan salah satu bentuk kepedulian warga adat Kasepuhan dalam menjaga dan melestarikan hutan.

Hutan merupakan kebutuhan yang paling utama bagi masyarakat adat Kasepuhan. Hutan fungsinya sangat banyak sekali  meramahkan lingkungan, memberikan air dan mencerminkan  keindahan satu daerah dimana Kasepuhan berada di daerah perbukitan yang suhu udaranya dingin sesuai dengan kodrat alam yang diberikan kepada daerah Kasepuhan. Kebersamaan warga Kasepuhan (incu putu) dalam melestarikan alam pada perinsipnya sama dengan pemerintah melalui Taman Nasional Gunung Halimun Salak TNGHS  karena Kasepuhan berada dikaki gunung TNGHS, Dimana Alam/hutan  dengan manusia saling membutuhkan. Oleh karena itu, ekosistim melestarikan Alam/hutan dilingkungan warga Adat adalah tetap menjadi kebiasaan.

Menjaga flora dan fauna, mengutuhkan sumber mata air menanam pohon di tempat hutan yang gundul  dengan tanaman hortikultura (budidaya buah, sayuran, bunga, obat-obatan dan lain-lain). Penjaga leuweung (hutan) dipimpin oleh satu orang pimpinan, dan dibantu oleh masyarakat adat yang lain. Bertugas memastikan hutan agar tetap hijau dan juga memastikan apakah ada penebang liar yang masuk atau tidak. Warga adat Kasepuhan sangat peduli dalam menjaga hutan. Itu terbukti dengan adanya pembagian ruang kelola hutan, meraka membagi hutan kedalam tiga bagian yaitu : Hutan Tutupan, Hutan Titipan dan Hutan Garapan.

Hutan Titipan yaitu hutan yang tidak boleh dimasuki atau hutan larangan . Hutan ini tidak boleh disentuh atau tidak boleh dimasuki oleh warga masyarakat adat Kasepuhan. Apabila hutan tersebut dimasuki oleh masyarakat maka sesuatu akan terjadi kepada sipelanggar itu baik berupa penyakit atau yang lainnya. Ada juga yang melanggar yaitu memasuki hutan larangan dan mereka tidak bisa pulang kerumah lagi karena tidak menemukan jalan pulang dari hutan titipan tersebut. Hutan ini fungsinya sangat besar bagi masyarakat adat Kasepuhan yaitu menyimpan air. Sawah-sawah yang ada disekitar Masyarakat kaolotan diairi dari Hutan Titipan ini. Selain untuk pesawahan, air ini juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat Kasepuhan. Mulai dari kebutuhan untuk minum, untuk mandi dan lain-lain.

Hutan Tutupan  yaitu hutan yang boleh di garap tapi harus ada izin dari pemangku adat dulu.  Hutan ini hanya dimanfaatkan untuk keperluan membangun rumah. Hutan ini biasanya lokasinya tidak terlalu jauh dari pemukiman masyarakat. Hutan ini tidak boleh dibuka apabila di hutan garapan masih tersedia  bahan-bahan untuk keperluan/membuat rumah.

Hutan Garapan yaitu hutan yang menjadi mata pencaharian mereka sehari-hari yaitu berupa pesawahan, ladang dan kebun. Hutan Garapan ini siapa saja boleh menggarapnya asalkan ada kemauan. Baik itu Masyarakat adat atau bukan, mereka tetap dibolehkan menggarap lahan tersebut. Namun, ada satu hal yang tidak boleh yaitu mereka tidak boleh memiliki tanah tersebut secara individu dan mereka hanya diperbolehkan menggarapnya. Tidak ada batasan tertentu seberapa luas mereka harus menggarap. Dalam hal menggarap hutan garapan itu sesuai kemampuan kita. Sementara untuk pesawahan biasa nya sawah tersebut sudah merupan tanah milik atau surat pemberian hak menggrap. Sawah-sawah tersebut sifatnya sudah tanah milik dan orang lain tidak boleh menggarapnya. Ada juga aturan yang membolehkan orang lain menggarapnya yaitu sistem bagi hasil.

Imah Gede di Kasepuhan Ciptarasa

Imah Gede di Kasepuhan Ciptagelar

Foto alm. Abah Anom (Abah Encup Sucipta)

Abah Ugi dan Ema Alit sedang menerima tamu

Leuit Si Jimat, lumbung padi yang berada di tengah-tengah kampung Kasepuhan Ciptagelar

Warga kasepuhan sedang melakukan aktifitas olahraga

Kendaraan 4WD (offroad) di halaman Imah Gede

Kondisi jalan yang berliku lebih cocok mengendarai kendaraan 4WB (offroad)

Bagi yang hobby motret alam, sepanjang jalan menuju atau pulang dari kasepuhan banyak objek menarik yang bisa dijadikan objek foto.

Meskipun warga Kasepuhan tinggal di Kawasan TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun Salak), ekosistem hutan masih terjaga dengan baik, kaya dengan berbagai jenis flora dan fauna.

3 thoughts on “Kasepuhan Banten Kidul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s