Ngertakeun Bumi Lamba

Image

Sepi dan tidak ada tanda-tanda kehadiran peserta ritual, itu yang saya rasakan ketika kami masuk kawasan Gunung Tangkuban Perahu. Asap belerang pagi itu juga sangat pekat bikin sesak napas…pikir kami jangan-jangan upacara ritual gagal dilaksanakan gara-gara tebalnya asap belerang. Tampak dari jauh rekan-rekan jurnalis mulai berdatangan dan merasakan hal yang sama…”kok sepi, acaranya jadi kan ?”…tanya kang Agus Bebeng (wartawan foto ANTARA).

Tidak lama kemudian beberapa orang berpakaian serba hitam-hitam dengan ikat kepala mulai berdatangan, disusul kedatangan beberapa panitia, kang Asep, abah Uus, sesepuh adat dan pemuka agama…berarti acara ritual Ngertakeun Bumi Lamba tetap dilaksanakan…yes…

Perlu diketahui bahwa NGERTAKEUN BUMI LAMBA adalah sebuah upacara tahunan di puncak Gunung Tangkuban Parahu, digelar bertepatan dengan posisi matahari yang baru mulai kembali dari paling utara bumi menuju selatan, yaitu di setiap bulan ‘kapitu’ ( bulan ke 7 ), dalam hitungan Suryakala, kala-ider (kalender) Sunda. Bersama mengekspresikan sembah kepada yang telah memberi kehidupan dengan cara menghaturkan beragam keindahan rasa persembahan, hasil bumi, lantunan mantera, musik sakral dan tarian.

NGERTAKEUN berasal dari kata NGRETAKEUN yang berarti mensejahterakan atau memakmurkan. Intinya adalah berterima kasih kepada asal mu asal keberadaan diri di alam ini. Menghormati Gunung sebagai tempat ‘kabuyutan’ (sumber air, makanan atau juga leluhur). Mengingatkan kepada setiap kita bahwa kesucian gunung adalah sumber utama mahluk di sekitar gunung tersebut, gunung adalah Pakuan Bumi di semesta ini, gunung menjadi sumber nilai spiritual dan budi pekerti yang mendasari perilaku yang berbudaya bagi umat manusia di muka bumi, sebagaimana nama SUNDA yang melekat pada Gunung Tangkuban Parahu (Purba Kancana Parahyangan).

Dengan diadakannya upacara ini, maka dampak lainnya adalah, masyarakat sekitar, begitu juga pemerintah akan sadar, bahwa karena gunung ini sumber air, maka kelestarian hutannya harus dijaga ” Mulasara Kabuyutan “.

Kalimat “Ngertakeun Bumi Lamba” tercatat pada naskah Sanghyang Siksakandang Karesian yang ditulis pada abad ke 16 (1518 M). Sanghyang Siksakandang Karesian merupakan kitab pada zaman Kerajaan Sunda Galuh (Pajajaran) yang mengajarkan ilmu tentang kesejahteraan hidup/aturan mengenai kesejahteraan (negara, manusia dan dunia).

Berikut kutipan kalimat “Ngertakeun Bumi Lamba” pada naskah Sanghyang Siksakandang Karesian:

“Ini pakeun urang ngretakeun bumi lamba, caang jalan, panjang tajur, paka pridana, linyih pipir, caang buruan. Anggeus ma imah kaeusi, leuit kaeusi, paranje kaeusi, huma kaomean, sadapan karaksa, palana ta hurip, sowe waras, nyewana sama wong (sa)rat. Sangkilang di lamba, trena taru lata galuma, hejo lembok tumuwuh sarba pala wo(h)wohan, dadi na hujan, landung tahun, tumuwuh daek, maka hurip na urang reya. Inya eta sanghyang sasana kreta di lamba nga-rana”

Artinya:
“Ini (jalan) untuk kita menyejahterakan dunia kehidupan, bersih jalan, subur tanaman, cukup sandang, bersih halaman belakang, bersih halaman rumah. Bila berhasil rumah terisi, lumbung terisi, kandang ayam terisi, ladang terurus, sadapan terpelihara, lama hidup, selalu sehat, sumbernya terletak pada manusia sedunia. Seluruh penopang kehidupan, rumput, pohon-pohonan, rambat. semak, hijau subur tumbuhnya segala macam buah-buahan, banyak hujan, pepohonan tinggi karena subur tumbuhnya, memberikan kehidupan kepada orang banyak. Ya itulah (sanghiyang) sarana kesejahteraan dalam kehidupan namanya.”

Susunan acara hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu:

1. JAJAP PARAWANTEN

Ini menandakan upacara di mulai, yaitu jam 10.00 wib, setelah berkumpul di dekat tempat parkir atas (+/- 200 meter dari tempat parkir), bersama-sama melakukan ‘helaran’ (arakan), membawa sesajen diiringi tetabuhan/musik angklung menuju kawah.

2. NGALINGGIHKEUN PARAWANTEN

Memasuki area upacara. menempatkan sesajen ditempat yang telah disediakan, semua peserta membuat lingkaran, para tetua duduk sila di tempatnya, saat yang sama “KOLOT NUMBALAN” (ngukus menyan oleh tetua)

3. RAJAH PAMUKA

Setelah peserta siap melingkar duduk tertib, meditasi/menekung bersama diiringi musik kecapi suling dan alunan rajah, oleh ‘jaro rajah’

4. RAJAH NUSANTARA SABUANA

‘Angklung buhun’ (Angklung sakral) mulai ngaruwat, terus mereka akan berkeliling memutari area upacara dan seluruh peserta, sebagian dari peserta boleh ikut berputar, juga dimulainya agni hotra (seuneu agung), menyampaikan cinta-kasih oleh jaro pangaramat (pasaduan), kecapi suling pirigan, semua itu mulai bersama. Kemudian alur mengalir, ketika rasa jiwa mulai bangkit, kidung/mantra dari berbagai daerah dilantukan dengan kebebasan hati dan rasa yang terpanggil, membebaskan semua peserta terlibat dalan nyanyian, suara-suara dari mulut, semua dorongan suara dengan rasa hati yang mulai terbuka, baik dengan lagu berisi pesan atau pun suara tanpa kata-kata. Dalam alur yang memuncak, alat tetabuhanan/musik lain baru akan masuk setelah “jaro pamangkat” memberi tanda tabuhan/musik, maka semua yang membawa alat tabuhan/musik membunyikan dan menyertakan diri secara harmoni dalam detak nada yang berlangsung.

5. IBING SANGHYANG ISMAYA (WISNU)

Angklung buhun, seuneu agung, kidung/mantra terus berlantun bersahutan, dimulai dengan 7 orang penari laki-laki (tua-muda) membuka tarian, mengikuti detak nada. diikuti kemuadian oleh peserta yang ingin menari, laki-laki atau perempuan boleh ikut. sampai puncak rasa hati, dan kemudian semua cukup untuk mulai berhenti.

6. IBING ASIH SANGHYANG SRI POHACI (DEWI SRI)

Semua berhenti gelar kembali hening dan melanjutkan diri untuk diam, meditasi/menekung, atau merasakan dan membangun rasa hati yang damai. maka selanjutnya iringan tabuhan/musik ‘tarawangsa’. 7 orang penari perempuan (tua-muda) membuka tarian. selanjutnya diikuti oleh peserta yang ingin menari, laki-laki atau perempuan boleh, menari bersama.

7. RAJAH PAMUNAH

Semua sudah pada puncaknya. Sebagai penutup, meditasi/menekung bersama. Diiringi karinding, semua yang membawa karinding membunyikannya. celempung tunggal, suling, dan toleat. para jaro pangjejer akan mencipratkan air kesemua peserta yang hadir. dan proses olah rasa sudah selesai. Peserta saling bersalaman, mengambil sesajen, dan lain2.

8. TARAWANGSA

Sebagai penutup Ritual akan di iringi Tarawangsa yaitu Tarian Spiritual, dan semua peserta dapat menari bersama bergantian sebagai Ucapan Terima Kasih kepada Sang Hyang Maha Pencinta atas apa yang telah diberikan dalam kehidupan kita selama ini.

Yang berbeda dari tahun kemaren adalah ketidakhadiran peserta dari Baduy dan parawanten (sesajen) tidak ditandu memakai jampana, tapi dibawa perorangan.

Upacara Ngertakeun Bumi Lamba tahun ini adalah yang terakhir kalinya dilaksanakan di puncak (kawah) Gunung Tangkuban Parahu, tahun depan ritual besarnya hanya akan dilakukan di kaki gunung.

Peserta ritual mulai berdatangan

Salah satu peserta sedang membantu temannya memasang iket (ikat kepala)

Mempersiapkan parawanten (sesajen)

Beberapa jenis pawaranten (sesajen) sebagai pelangkap ritual

Pemimpin ritual memberikan arahan kepada peserta

Rombongan peserta berjalan menuju kawah ratu & kawah domas untuk melakukan ritual

Menuruni lembah

Salah satu tokoh agama dan sesepuh adat peserta ritual

Pembawa sesajen

Tiba di antara kawah domas dan ratu, peserta menyusun parawanten (sesajen) dan perlengkapan ritual lainnya

Peserta melakukan ritual menghadap ke arah kawah bagian selatan

Bersemedi

Alat musik tiup bambu, jitreng, kecapi, karinding, celempung dan angklung adalah beberapa alat musik yang dimainkan pada saat ritual.

Para penabuh kendang dan angklung memainkan musik mengelilingi area ritual

Ritual ditutup dengan Tarawangsa (tarian spiritual)

6 thoughts on “Ngertakeun Bumi Lamba

  1. Tahun depan bisa ke sini lagi…tapi acara ritual tahun depan tidak akan diadakan di puncak Gn. Tangkuban Parahu, yang akan ke puncak hanya perwakilan saja. Nanti acara ritualnya akan digelar di kaki gunung, belum ada informasi di sebelah mana-nya.

    • hatur nuhun sami-sami kang…
      Nya upami aya acara nu kararieu urang silih bewarakeun we…^_^…

  2. kang saya mau tanya, apa bedanya tarian spiritual tarawangsa dengan tarian ibinng ismaya dan ibing sri pohaci disini, keebetulan saya sedang menyusun skripsi, dengan menggangkat tema ibing sanghyang di upacra ngertakeun bumi lamba kang, diantos …
    hatur nuhu penjelasannya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s