Idris Sang Manusia Batu

Foto siluet "Manusia Batu"

Foto siluet “Manusia Batu”

Untuk mengusir rasa jenuh, sore itu saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Kawasan Kota Tua, Jakarta. Sebelumnya saya mendapatkan kabar kalau pedagang emperan yang biasa dagang di pelataran Taman Fatahillah sudah ditertibkan, saya ingin melihat bagaimana kondisi terakhir di sana.

Masuk dari arah Museum Bank Indonesia terlihat spanduk larangan untuk berjualan di Kawasan Kota Tua, tapi ternyata masih ada segelintir pedagang yang masih mangkal di sana, sepertinya duit sogokan ke petugas satpol pp masih berlaku. Lalu saya masuk ke pelataran Museum Sejarah atau Museum Fatahillah, di sini baru terasa beda, lebih asri dan leluasa, biasanya susah jalan karena penuh sama pedagang. Di pelataran Taman Fatahillah sekarang didominasi oleh rental sepeda ontel, wajar kalau mereka dikasih tempat karena sepeda sangat membantu pengunjung/wisatawan mengelilingi Kawasan Kota Tua sampai ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Lalu saya bergeser ke arah Museum Keramik, tampak ada kerumunan pengunjung di sudut kiri Museum Fatahillah, ada apakah gerangan…ternyata mereka sedang menyaksikan atraksi seorang “Manusia Batu”. Dengan pakaian prajurit jaman dulu, memegang senjata, dia berpose persis seperti patung, menahan napas diam tidak bergerak, lalu dia ganti pose dan tersenyum, warna putih gigi kontras dengan seragam dan kulitnya yang sengaja dicat hitam.

Manusia Batu

Seorang ibu sedang mengabadikan kedua anaknya yang sedang ikut berpose dengan Idris Sang Manusia Batu, pada keranjang tempat uang sumbangan tertulis “Manusia Batu, Boleh Foto Bersama, Pasti Unik”.

Idris, 34 tahun asal Jonggol Bogor ini ternyata sudah menjalani profesinya sebagai “Manusia Batu” di Kota Tua sejak bulan Ramadhan 2012. Ide awal menjadi Manusia Batu dia dapatkan dari sebuah video di Youtube, kebetulan waktu itu dia sedang nganggur dan mencari ide usaha mencari nafkah. Video yang dia tonton adalah video tentang festival manusia patung yang diadakan di spanyol. Sejak itu Idris mencoba latihan di depan cermin, tak jarang Idris menerima ejekan dari sang Istri…seperti orang gila” kata sang istri.

Apa boleh buat, Idris menjalani profesi barunya ini demi menghidupi keluarga. Dari rumahnya di Jonggol dia harus beberapa kali naik kendaraan antara lain ke Cileungsi kemudian UKI lalu ke Kota Tua. Dari beberapa kali percobaan tokoh patung yang Idris peragakan, Idris akhirnya mantap dengan tokoh atau kostum tentara jaman dulu, cocok dengan karakter lokasi pertunjukan yaitu tempat sejarah perjuangan jaman dahulu.

Dari ide dan kreatifitasnya itu, pada hari biasa dalam satu hari Idris bisa mengantongi uang recehan yang terkumpul kurang lebih Rp. 150.000,- dan keuntungan berkali lipat di musim liburan. Uang tersebut berasal dari sumbangan pengunjung yang ingin berfoto bersama Idris sang Manusia Patung. Istrinya yang dulu sering mengejek, sekarang malah ikut membantu memberikan ide gerakan-gerakan atau pose lainnya…^_^…

Update…

Ternyata mas Idris punya twitter, belum lama beliau menyapa saya di twitter dgn id @manusiabatu1 dan beliau juga memiliki blog yaitu http://simanusiabatu.blogspot.com/ terima kasih mas sudah menyapa saya…semoga sukses.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s