Pulau Pari – Kepulauan Seribu

pulau pari

Tugu Pulau Pari

Menanggapi ajakan seorang teman untuk motret Lyrid Meteor Shower (Hujan Meteor Lyrid) di Pulau Pari, -+ Pkl. 08.00 WIB kami berlima berangkat dari Muara Angke menuju Pulau Pari, agak ngaret memang, harusnya kapal berangkat Pkl. 07.00 WIB. Waktu di Pelabuhan Muara Angke gak sengaja ketemu mas Ahmad Fauzan dari National Geographic Indonesia, beberapa bulan yang lalu saya dan mas Ahmad sempat hunting bareng Liputan Pesisir Jakarta bareng mas Reynold Sumayku dkk. dan ternyata tujuan kami sama yaitu plesiran ke Pulau Pari🙂 ….lets gooooo….

Dimanakah Pulau Pari? Pulau Pari merupakan salah satu pulau yang berada di gugusan Kepulauan Seribu dan masuk wilayah administrasi DKI Jakarta. Disebut Pulau Pari karena konon katanya jika dilihat dari atas (pesawat atau citra satelit) bentuk pulau ini seperti ikan pari. Pulau Pari masuk dalam teritori Kelurahan Pari. Terdiri dari satu Rukun Warga dan 4 Rukun Tetangga. Kenapa satu RW? karena ketiga RW lainnya, terletak di Pulau Lancang. Dengan kata lain, Pulau Lancang dan Pulau Pari merupakan 2 pulau yang termasuk ke dalam satu wilayah administrasi, yakni Kelurahan Pari. Pulau Pari sendiri memiliki luas wilayah kurang lebih 94 hektar. Seperti Pulau Tidung, Macan, Bidadari dan beberapa pulau lain yang ada di gugusan Kepulauan Seribu, Pulau Pari juga merupakan surga tersembunyi bagi penikmat alam. Pasir putihnya, air birunya, dan keramahan penduduknya, menjadi nilai lebih. Pulau ini juga menjadi lahan konservasi biota laut oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kebetulan di Pulau Pari kami ketemu langsung dengan Ketua RW4 Pulau Pari yaitu Pak Ilhamsyah, selanjutnya dipanggil Pak Ilham. Ketemu dengan Pak Ilham sebenarnya bukan kebetulan, Pak Ilham ini adalah orang tua mas Arif, teman dari sahabat kami yang bekerja di PMI Pusat. Setibanya di Dermaga Pulau Pari, kami dijemput Pak Ilham lanjut menuju ke Homestay. Di Pulau Pari tidak ada hotel, jadi kami menginap di rumah penduduk. Andai saja kami konfirmasi jauh-jauh hari mau datang ke Pulau Pari, kami bisa nginap di rumah Pak Ilham, tapi berhubung rumah Pak Ilham sudah ditempati oleh rombongan lain akhirnya kami ditempatkan di salah satu rumah tidak jauh dari rumah Pak Ilham.

Pak Ilham merupakan warga Pulau Tidung yang pindah ke Pulau Pari. Karena Pulau Tidung sudah mulai rame dan banyak sampah, Pak Ilham dan Istrinya yang berasal dari Tangerang Banten memutuskan untuk pindah ke Pulau Pari. Denger-denger sebagian besar pulau ini sudah dibeli oleh pihak swasta, tapi kalau mau beli tanah dan bangun rumah menurut pak Ilham kalo gak salah harganya Rp. 140.000 per meter persegi…ada yang minat?…

Setelah ketemu tuan rumah dan membayar uang sewa sebesar Rp. 300.000,- untuk satu hari, kami istirahat dan makan siang. Lalu kami lanjut untuk pergi snorkling, karena dadakan kami harus menunggu alat snorkling dan perahu cukup lama, semuanya diberesin sama pak RW🙂. Setelah menunggu cukup lama akhirnya Pak Ilham membawakan kami lima set peralatan snorkling, beliau juga memberi sara-saran apa yang harus kami lakukan ketika melakukan kegiatan snorkling, demi keselamatan kami. Sewa satu paket alat snorkling adalah Rp. 25.000,- terdiri dari Fin, Goggle dan Snorkel, sedangkan untuk sewa perahu kami merogoh kocek Rp. 250.000,-, kebetulan pemilik perahu adalah tetangga kami yaitu Mas Bojes yang masih keturunan Bugis.

Sepanjang perjalanan menuju spot snorkling, kami menemukan banyak sampah di laut, perahu yang kami tumpangi setidaknya 6x mogok karena baling-balingnya terlilit sampah, mas Bojes terpaksa naik turun perahu untuk melepaskan lilitan sampah dari baling-baling perahu. Spot Snorkling pertama adalah Pulau Tikus, airnya cukup jernih dan dangkal. Selain kami, ada banyak wisatawan lain yang melakukan hal yang sama. Tapi pemandangan waktu kurang sedap, tampak sebagian dari mereka berjalan dan menginjak-injak terumbu karang😦 bahkan ketika di dalam air mereka dengan bangga berfoto sambil memegang terumbu karang, padahal itu adalah perbuatan destroyer, merusak terumbu karang. Dari Pulau Tikus kami lanjutkan ke APL (Area Perlindungan Laut), di sini terumbu karangnya masih bagus dan ikannya juga lebih bervariasi. Berhubung arus laut cukup kuat dan keberadaan ubur-ubur yang beberapa kali menyengat kaki, kami tidak bisa berlama-lama snorkling di APL…kami langsung pulang ke homestay.

Malam hari kami lanjutkan dengan bakar ikan dan cumi, kami pesan ikan dan cumi ke Pak RW dan beliau juga yang bantu bakarin ditemani Bu RW. Kami dibelikan Ikan Kaneke dengan harga Rp. 40.000/kilo, ikan Kaneke ini cukup spesial pada malam itu, karena wisatawan lain hanya dapat ikan bandeng. Menurut Pak RW, sekarang untuk mendapatkan ikan di Pulau Pari agak sulit, permintaan banyak tapi yang nyari ikan (nelayan) sedikit. Dulu sebelum Pulau Pari menjadi tempat tujuan wisata, mata pencaharian penduduk Pulau Pari adalah nelayan. Setelah Pemerintah mengembangkan sektor ekowisata di Pulau Pari dengan melibatkan warga setempat, secara perlahan penduduk Pulau Pari mencari nafkah di sektor pendukung wisata antara lain buka warung makanan, sewa perahu, sewa rumah, sewa alat snorkling dan guide. Ibu RW sempat ngeluh, dulu sangat mudah untuk mendapatkan udang, sekarang beliau harus rebutan dengan penduduk lain untuk mendapatkan udang, karena nelayannya makin sedikit…kalian beruntung dapat ikan Kaneke…

Oiya saya lupa menuliskan bahwa pada saat tiba di Dermaga Pulau Pari saya ketemu dengan Christ, teman backpackeran ke Ujung Kulon. Dia datang ke Pulau Pari dengan tujuan untuk mencari ikan (spearfishing/nembak ikan dengan senjata panah). Pada saat kami bakar ikan, Christ mengajak saya untuk ikut berburu ikan malam hari dengan menggunakan speargun, ajakan yang menggiurkan. Tapi berhubung sedang menikmati ikan bersama empat rekan saya, terpaksa saya gak bisa ikut  :)  sorry ya bro…

Singkat cerita, inilah yang ditunggu-tunggu, motret Lyrid Meteor Shower. Pkl. 01.30 dinihari kami berangkat ke Pantai Pasir Perawan, lokasinya cocok dengan arah muncul meteor Lyrid yaitu arah utara. Perasaan gak enak mulai datang pada saat muncul cahaya kilat dari arah timur, kami cek barometer tekanan udara masih normal, masih aman. Ketika tiba di pantai kami bongkar muatan, pasang tripod, kamera, Intervalometers (timer release cables) dan tereeeeeeeet batre interval release ketinggalan di home stay. Kilatan petir muncul lagi di sebelah timur, cek barometer ternyata tekanan udara turun drastis, bintang yang tadinya kelihatan mulai menghilang tertutup awan mendung. Berhubung cuaca kurang bersahabat akhirnya kami putuskan untuk pulang ke homestay dan istirahat. Dan benar saja, cuaca gerimis sampai pagi…pemandangan sunrise juga tidak bisa kami rekam…lanjut tidur.

Semua foto di bawah ini diambil dengan menggunakan kamera pocket Nikon Coolpix AW100

Pelabuhan/Dermaga Pulau Pari

Dermaga Pulau Pari

Air pantai Pulau Pari masih jernih

Air pantai Pulau Pari masih jernih

Snorkeling tentunya merupakan tujuan utama melancong ke Pulau Pari.

Snorkling, merupakan salah satu kegiatan utama ketika berwisata di Pulau Pari.

Berenang bersama ikan laut yang warna warni

Berenang bersama ikan laut yang warna warni

Karena sudah terbiasa dikasih makan sama pengunjung, ikan-ikan di sini pada jinak.

Karena sudah terbiasa diberi makan oleh pengunjung, ikan-ikan di sini pada jinak.

Terumbu Karang di Pulau Pari masih terjaga dengan baik, ikannya juga cukup besar-besar.

Terumbu Karang di perairan yang dalam masih terjaga dengan baik, sedangkan di perairan yang dangkal sudah mulai rusak karena perilaku para pengunjung yang suka nenginjak dan memegang terumbu karang, juga karena hantaman jangkar kapal.

Salah satu tindakan dari salah satu guiede lokal yang bisa merusak ekosistem laut, jika ekosistem rusak maka yang rugi mereka juga, ikan gak ada, terumbu karang rusak, wisatawan sepi, pendapatan juga pasti berkurang.

Salah satu tindakan dari salah satu guiede lokal yang bisa merusak ekosistem laut, jika ekosistem rusak maka yang rugi mereka juga, ikan gak ada, terumbu karang rusak, wisatawan sepi, pendapatan juga pasti berkurang.

Ikan diantara terumbu karang yang sudah hancur.

Ikan diantara terumbu karang yang sudah hancur.

Masyarakat Pulau Pari menyadari pentingnya kebersihan, terbukti dengan suasana perkampungan yang bersih.

Aktifitas warga menjaga kebersihan lingkungan rumah. Masyarakat Pulau Pari menyadari pentingnya kebersihan, terbukti dengan suasana perkampungan yang cukup bersih.

Budidaya rumput laut merupakan salah satu mata pencaharian penduduk Pulau Pari.

Budidaya rumput laut merupakan salah satu mata pencaharian penduduk Pulau Pari. Rumput Laut diolah menjadi Agar-agar dan Es Campur yang bisa dijual kepada pengunjung Pulau Pari.

Bintang laut jenis seperti ini   sangat mudah ditemukan di pantai / perairan dangkal.

Bintang laut jenis seperti ini sangat mudah ditemukan di pantai / perairan dangkal.

Selain bintang laut, di dekat  pohon bakau banyak ditemui jenis-jenis kepiting, jika beruntung anda bisa menemukan kepiting ukuran besar.

Selain bintang laut, di dekat pohon bakau banyak ditemui jenis-jenis kepiting, jika beruntung anda bisa menemukan kepiting ukuran besar.

Akar-akar napas Sonneratia yang muncul dipermukaan tanah. Akar-akar ini berfungsi dalam pernapasan tumbuhan mangrove/bakau pada habitat yang asin dan jenuh dengan air.

Akar-akar napas Sonneratia yang muncul dipermukaan tanah. Akar-akar ini berfungsi dalam pernapasan tumbuhan mangrove/bakau pada habitat yang asin dan jenuh dengan air.

Aktifitas menanam bibit pohon bakau di pantai pasir Perawan

Aktifitas menanam bibit pohon bakau di pantai pasir Perawan

Malam hari menikmati ikan bakar di pinggir pantai

Malam hari menikmati ikan bakar di pinggir pantai

Suasana bongkar muat barang di Dermaga. Menurut Bu RW, jika nitip belanjaan maka akan dikenakan ongkos minimal Rp. 2.000,- untuk satu barang. Penduduk Pulau Pari lebih suka belanja di Tangerang, jaraknya lebih dekat dibanding ke Jakarta.

Suasana bongkar muat barang di Dermaga. Menurut Bu RW, jika nitip belanjaan maka akan dikenakan ongkos minimal Rp. 2.000,- untuk satu barang. Penduduk Pulau Pari lebih suka belanja di Tangerang, jaraknya lebih dekat dibanding ke Jakarta.

Sampah di perairan Pulau Pari cukup mengganggu, sampah ini adalah sampah dari Jakarta yang terbawa arus laut dan juga sampah yang dibuang dari kapal.

Gara-gara sampah, perahu yang kami tumpangi pada saat menuju area snorkling setidaknya 6x mogok karena baling-balingnya terlilit sampah. Tampak Mas Bojes supir perahu sedang membersihkan baling-baling perahu dari lilitan sampah.

Penduduk Pulau Pari bukan tidak peduli dengan sampah-sampah yang mengotori pantai, mereka sering mengadakan bersih-bersih pantai, namun karena sampahnya ada lagi dan ada lagi, membuat mereka sedikit prustasi dan tampaklah seperti ini.

9 thoughts on “Pulau Pari – Kepulauan Seribu

  1. Banyak banget karang yg sudah hancur di seputaran pulau pari karena bener ulah pelancong yg menginjak-injak karang sampai patah. Tragis banget menurut gw😦 padahal butuh waktu puluhan tahun untuk mereka bisa tumbuh

    • Yup benar sekali, saya kemaren ngobrol dengan salah satu guide asli penduduk Pulau Pari, waktu saya tanya mengenai apa sih daya tarik Pulau Pari…si Guide bilang bahwa “Pelancong ke sini biasanya pengen foto bersama ikan (ngasih makan ikan) dan foto freedive sambil megang terumbu karang….” Kata si Guide.

      Padahal di sana ada APL (Area Perlindungan Laut) dan kelompok warga pelestarian laut, bisa dijadikan contoh atau sarana sosialisasi perlindungan terumbu karang dll. tapi sayang gak berfungsi.

  2. Memangggg……. untuk urusan dive and snorkling Pulau Pari lah tempatnya. Air yang jernih dan terumbu yang terjaga menjadikan kehidupan bawah launtya menjadi berkesan dan ingin kembali nge dive.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s