Cihideung Festival 2013

Spanduk Cihideung Festival 2013 di pintu masuk pusat acara.

Spanduk Cihideung Festival 2013 di pintu masuk pusat acara.

Sabtu malam duduk manis di dalam Bis Budiman jurusan Banjar, rencananya gw mau pulang kampung ke Ciamis, mumpung ada harpitnas hari senen. Penumpang mulai penuh dan sebentar lagi bis berangkat, tiba-tiba handphone berbunyi, sodara gw ngasih kabar bahwa besok (hari minggu) pagi 3 November 2013 ada acara pembukaan Cihideung Festival 2013 di daerah Cihideung, Parongpong, Bandung. Tanpa pikir panjang gw langsung turun dari bis, ganti jurusan ke Bandung, nyampe rumah sodara di Lembang sekitar jam 2 dinihari…langsung tidur.

Minggu pagi sekitar pkl. 06.30 WIB, gw berangkat menuju Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Acara Cihideung Festival dimulai pada pkl. 07.00 WIB, dibuka dengan ritus irung-irung ( ngaruwat mata air). Cihideung Festival adalah festival tahunan yang diselenggarakan para pedagang bunga dan tanaman hias Desa Cihideung. Festival kali ini merupakan gelaran kelima sejak tahun 2008. Cihideung Festival bertujuan untuk mempromosikan kawasan wisata Desa Cihideung, khususnya agrowisata dan tanaman hias. Promosi ini dikemas dalam atraksi kesenian serta parade budaya yang ditampilkan oleh warga Desa Cihideung dan kegiatan ini sudah masuk agenda tahunan Pemkab Bandung Barat.

Acara Cihideung Festival ini dihadiri oleh Ais Pangaping (pembina) yaitu Abah Nanu Muda, kemudian Bpk. Abu Bakar sebagai Bupati Kabupaten Bandung Barat, lalu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata KBB, Bpk. Asep Iyas dan beberapa tokoh masyarakat setempat. Abah Nanu mengatakan sebenarnya Festival Cihideung diselenggarakan setiap bulan Agustus. Tapi karena dua tahun sebelumnya, bulan Agustus bertepatan dengan bulan Ramadan, maka kegiatan tersebut sempat terhenti, untuk tahun berikutnya Cihideung Festival akan diselenggarakan pada bulan Agustus.

Pada acara Cihideung Festival, perwakilan setiap RW di Desa Cihideung menampilkan kesenian berupa Kuda Lumping, Silat, Sasapian, Barong, Motor Hias dan Tari-tarian. Sejak pagi warga Desa Cihideung sudah berkumpul di pinggiran jalan raya, beberapa warga memakai kostum khas orang sunda yaitu pakaian pangsi (hitam) dengan ikat kepala, para penarinya memakai kebaya dengan bawahan kain batik, kepalanya dihias dengan bunga. Musik tradisional sunda pun terdengar mengiringi permainan Sasapian, Barong dan Kuda Lumping, sesekali terdengar suara bedil lodong (petasan karbit terbuat dari bambu). Lagi asik motret pemain musik, tiba-tiba memdengar keributan di belakang, di lokasi pemaen Kuda Lumping dan Sasapian, ternyata ada 2 orang pemain yang kesurupan.

Sesepuh Desa Cihideung datang dengan membawa domba dan sesajen, pertanda pawai segera dimulai. Para Sesepuh berjalan di depan, warga berjalan di belakang mengikuti para sesepuh menuju irung-irung yang berada dibelakang Jadul Village. Irung-irung merupakan sumber mata air bagi masyarakat Desa Cihideung, sayang sekali tanah tempat sumber air ini sudah menjadi milik pengembang😦.

Pada acara ini, sumber mata air irung-irung merupakan tempat untuk melakukan ritual ngaruat mata air, tujuannya supaya masyarakat bisa merawat sumber mata air. Ritual irung-irung dimulai dengan serah terima domba untuk disembelih, kemudian dilanjutkan dengan peresmian prasasti atau piteket yang ditandatangani oleh Bupati Bandung Barat yaitu Bpk. Abu Bakar.

Dombapun disembelih, dan ketika darah domba mengalir ke kolam sumber mata air, tiba-tiba pemain sasapian dan kuda lumping berlari lalu terjun ke kolam mata air, mereka kerasukan, suara menggeram, mereka mengendus darah domba dan memakan sesajen. Peminpin ritual menggiring mereka kembali ke arena tarian kuda lumping dan sasapian, kondisi pemain masih dalam kondisi kesurupan. Dengan melakukan beberapa gerakan jurus dan doa, pemimpin ritual menyembuhkan/menyadarkan para pemain yang kesurupan.

Selesai acara Ritual irung-irung kami menuju Kavling Stroberi, di sana merupakan panggung pusat acara. Sambutan demi sambutan dilontarkan para sesepuh dan pejabat pemerintahan, dilanjutkan dengan tarian jaipong dan helaran sasapian, kuda lumping persembahan dari perwakilan tiap RT Desa Cihideung.

Helaran Sasapian di depan panggung utama

Helaran Sasapian di depan panggung utama

Rombongan sasapian perwakilan dari salah saru RT di Desa Cihideung

Rombongan sasapian dan kuda lumping perwakilan dari salah satu RT di Desa Cihideung

Musik tradisional Sunda mengiringi jalannya acara.

Musik tradisional Sunda mengiringi jalannya acara

Gadis-gadis penari dari Padepokan Kalang Kamuning, Desa Cihideung

Gadis-gadis penari dari Padepokan Kalang Kamuning, Desa Cihideung

Mojang Jajaka Kabupaten Bandung Barat juga ikut serta dalam acara Cihideung Festival.

Mojang Jajaka Kabupaten Bandung Barat juga ikut serta dalam acara Cihideung Festival

Abah Nanu, Bpk. Abu Bakar beserta rombongan menuju lokasi sumber mata air untuk melakukan ritual irung-irung

Abah Nanu Muda, Bpk. Abu Bakar beserta rombongan menuju lokasi sumber mata air untuk melakukan ritual irung-irung

Penandatangan prasasti oleh Bupati Bandung Barat, Bapak Abu Bakar

Penandatangan prasasti  yang berisi piteket oleh Bupati Bandung Barat, Bpk. Abu Bakar

Penyembelihan Domba, simbol bahwa warga harus rela berkorban apapun untuk merawat sumber air.

Penyembelihan Domba, simbol bahwa warga harus rela berkorban apapun untuk merawat sumber mata air

Berhenti sejenak dari aktifitas kerja untuk melihat jalannya ritual irung-irung

Berhenti sejenak dari aktifitas kerja untuk melihat jalannya ritual irung-irung

Para pemain sasapian dan kuda lumping yang kesurupan tiba-tiba berlari dan loncat ke dalam kolam irung-irung

Para pemain sasapian dan kuda lumping kesurupan, mereka berlari dan loncat ke dalam kolam irung-irung

Dengan suara menggeram mereka mengendus darah domba dan memakan sesajen

Dengan suara menggeram mereka mengendus darah domba dan memakan sesajen

Ritual untuk menyadarkan pemain/warga yang kesurupan

Ritual untuk menyadarkan pemain/warga yang kesurupan

Kesurupan membuat tenaga mereka terkuras, cape, lemas dan tidak sadar diri

Kesurupan membuat tenaga mereka terkuras, cape, lemas dan tidak sadar diri

Suatu hari nanti, ketika dewasa. merekalah yang meneruskan merawat dan menjaga sumber mata air ini

Suatu hari nanti, ketika dewasa, merekalah yang meneruskan merawat dan menjaga sumber mata air ini

4 thoughts on “Cihideung Festival 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s