Gelar Budaya Nusantara

Kasubid Pembinaan Seni rupa Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kemendikbud, Bapak Kustanto bersama-sama dengan perwakilan daerah peserta Gelar Budaya Nasional menebar padi saat pembukaan acara.

Kasubid Pembinaan Seni Rupa Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kemendikbud, Bapak Kustanto bersama-sama dengan perwakilan daerah peserta Gelar Budaya Nasional menebar padi saat pembukaan acara.

Tahun ini Gelar Budaya Nusantara kembali digelar, acara yang menampilkan ritus-ritus budaya pangan nusantara ini dilaksanakan pada tanggal 23-24 November 2013 di Taman Persahabatan Negara Non Blok TMII, Jakarta. Gelar Budaya Nusantara diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan TMII, menampilkan beberapa ritus budaya pangan dari beberapa daerah, antara lain dari Dayak Kanayatn (Kalimantan Barat), Toraja, Batak Karo, Cigugur Kuningan (Jawa Barat), Banyuwangi, Pati, serta menampilkan kesenian Tari Topeng Losari Cirebon dan Teater Ruang Solo.

Pada hari pertama, setelah acara peresmian, pagelaran diawali dengan Parade seluruh peserta dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Topeng Losari lalu pertunjukan koloborasi Teater Ruang Solo, Elly Luthan, Tim Banyuwangi dan Wukir Suryadi dengan alat musik bajaknya. Siang harinya digelar ritus budaya pangan dari tiga daerah, yaitu: Merdang Merdem dari Batak Karo, Sedulur Sikep dari Pati dan Kemiren dari Banyuwangi.

Pada hari kedua, acara dilanjutkan dengan pagelaran dari tiga daerah lainnya yaitu: Pangan Pare dari Toraja, Bauma Batahun dari Dayak Kanayatn dan Seren Taun Cigugur dari Kuningan Jawa Barat.

*Berikut ini saya paparkan sedikit penjelasan mengenai ritus-ritus budaya pangan tersebut di atas:

Merdang Merdem, Batak Karo
Adalah ritus budaya pangan yang berasal dari daerah Batak Karo, istilah Merdang Merdem dipakai di daerah Desa Jinabun Kecamatan Kuta Buluh, Kecamatan Tiga Binanga, Lecamatan Lau Baleng, dan beberapa lainnya.  Pelaksanaan merdeng merdem di desa Jinabun dilakukan bulan Juni yaitu pada setiap akhir musim panen, untuk mengawali musim tanam berikutnya. 

Menurut kepercayaan tradisional Karo, Merdang Merdem merupakan sebuah ungkapan sukacita atas panen yang berhasil. Rangkaian dari upacara itu selanjutnya dilaksanakan agar tanaman pertanian  tidak diganggu oleh bala-bala (hama). Menurut penuturan salah satu rombongan ritus Merdang Merdem, regenerasi pelaksanaan upacara ada ini sangat sulit, generasi muda tidak ada yang mau meneruskan. Yang melakukan upacara Merdang Merdem kebanyakan sudah lanjut usia, dua diantaranya adalah ibu berusia 85 tahun dan 90 tahun.

Sedulur Sikep (Lamporan), Pati
Ritus budaya dari Pati ini dikenal juga sebagai tradisi Lamporan, yang digelar petani lereng Pegunungan Kendeng Utara. Lamporan adalah tradisi petani menolak bala, berupa hama dan penyakit yang kerap menyerang tanaman dan ternak milik mereka. Tradisi itu masih dilestarikan di sejumlah desa di Kabupaten Rembang, Blora, dan Pati, Jateng. Tradisi itu dilakukan dengan cara berkeliling desa dan areal persawahan dengan menggunakan obor bambu dan menyanyikan parikan (pantun). Tradisi Lamporan di Pati adalah tradisi petani di kala tanah masih murni. Saat itu petani masih menggunakan pupuk kandang atau pupuk organik. Bahkan, dahulu petani tidak perlu menggunakan pupuk, tanah tinggal dibajak dan dicangkul sudah subur. Gunretno, salah satu tokoh Sedulur Sikep mengatakan bahwa tradisi itu ingin mengingatkan petani agar kembali pada alam dan menjaga bumi. Alam tidak hanya rusak karena pupuk dan obat kimiawi, tetapi juga karena ulah manusia dan industri.

Tanah adalah bumi yang diibaratkan sebagai ibu. Menjadi tempat berpijak, harus dihormati dan dirawat karena bisa menghasilkan dan memberikan sandang dan pangan lintas generasi. ”Tanah harus lestari dan sehat. Jika sakit, tanah tidak memberi kesuburan,” kata Gunretno lagi.

Kemiren, Banyuwangi
Kemiren adalah sebuah Desa di Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Upacara adatnya selalu berkaitan dengan kegiatan pertanian, upacara bersih desa dan upacara bersih diri. Sebagian besar penduduk desa Kemiren bermata pencaharian petani. Dalam bercocok tanam, masyarakat Kemiren menggelar tradisi selamatan sejak menanam benih, saat padi mulai berisi, hingga panen.

Berikut ini adalah Upacara Adat dan Kesenian pendukung ritus pangan Desa Kemiren:
Upacara Adat Pertanian: Nyelameti Banyu, Selametan sapi/Kebo (selesai membajak sawah), Adeg-adeg tandur, Selametan melecuti pari (saat padi hamil), Selametan pari (akan panen), Selametan jenang sumsum, Selametan jenang lemu, Barong ider bumi, Tumpeng sewu.
Kesenian yang dipentaskan pada acara ritus pangan: Gandrung sebagai simbol dewi Padi/Kesuburan, Kuntulan adalah jenis burung berwarna Putih yang kemudian diiringi dengan rebana/Terbang Banyuwangi, Barong, Gedhogan, Kiling (kitiran yang terbuat dari bamboo yang bunyinya bergantung dengan angin (alam) dan Angklung paglak.

Aluk Pare, Toraya/Toraja
Aluk merupakan ajaran atau aturan-aturan hidup sebagai suatu keyakinan yang diwariskan secara turun temurun sejak dari dulu kala hingga kini. Menurut kepercayaan ini Puang Matua (Allah) menciptakan bumi dan segala isinya termasuk aturan-aturan yang digunakan dalam pemujaannya kepada sang pencipta.  Cara menyembah dtetapkan oleh sang pencipta dalam bentuk Aluk melalui ritus-ritus dan pemali(pantangan/larangan), dan yang dipergunakan umumnya adalah hewan, tumbuh-tumbuhan, air, padi, besi dan lain-lain, diiringi dengan puji-pujian, hymne.

Ritual Aluk Pare mendapat tempat yang layak dalam masyarakat Toraya dan merupakan lambang kekayaan nomor satu (indah buda parena buda duka umanna yang artinya adalah siapa yang memiliki padi banyak pasti memiliki sawah yang banyak, karena standar kejayaan di Toraja adalah sawah dengan nilai takar kerbau). Adapun kegiatan dalam ritual Aluk pare adalah sebagai berikut: Ma’sadang Kalo, Ma’bukka panta’nakan, Manglullu, Mangramme, Mangambo, Rokko uma, Mantanan, Tumorak, Mangrakan; to indo’/indo’ padang, Manglelleng Bunu, Mepare (panen), Massaroi, Ma’po’ko’/ma’patuku, Ma’pakissin, Ma’belundak, Menammu,  Ma’bungka’ alan dan yang terakhir adalah Ma’bua’ Pare

Ma’bua’ Pare, dilaksanakan disebuah tempat yang bernama Pa’buaran, dilaksanakan setelah habis Panen, karena hasil panennya berhasil baik,  biasanya diperlihatkan/ditampilkan lukisan kerbau, babi, ayam, ikan dll yang ada dikain/mawa’ sebagai bagian kegembiraan dan sekaligus memperlihatkan simbol kekayaan yang dimiliki rumpun keluarga/ diharapkan.

Bauma Batahun, Dayak Kanayatn
Dayak Kanayatn adalah salah satu dari 604 sub suku Dayak di Kalimantan. Persebarannya da di Kalimantan Barat, meliputi Kabupaten Landak dan Kabupaten Pontianak, serta sebagian kecil di Kabupaten Bengkayang, Ketapang dan Sanggau. Bauma Batahun merupakan kegiatan bercocok tanam/berladang masyarakat adat Dayak Kanayatn, telah dilakukan berabad-abad yang lalu hingga saat ini. Kegiatan ini dilakukan dengan beberapa tahapan ritual, antara lain: Baburukng, Sambayang Basi, Ngawah, Nunu, Nugal, Ngikat Padi, Ngalayukan Bontokng, Matahatn dan Naik Dango (Pesta padi). Urutan ritual tersebut merupakan kegiatan mulai dari mencari lahan untuk bercocok tanam, menyiapkan peralatan berladang, membersihkan ladang, menebar benih sampai dengan ritual pesta panen raya.

Seren Taun, Cigugur Kuningan
Seren taun merupakan gelar budaya tradisionalmasyarakat Agraris Sunda yang masih ada dan biasa dilaksanakan di Kelurahan Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat. Tradisi ini dilaksanakan satu tahun sekali sebagai manifestasi luapan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Dari situlah Seren Taun dijadikan sebagai suatu istilah, Seren berarti menyerahkan dan Taun adalah tahun yang terdiri dari dua belas bulan. Secara definitive Upacara Seren Taun dapat diartikan “Upacara penyerahan hasil panen yang diterima pada tahun yang akan berlalu serta memohon berkah dan perlindunganNya untuk tahun yang akan datang “.

Melalui Seren Taun masyarakat Petani Sunda menyampaikan rasa syukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencerminan kesadaran pribadi atas suatu kenyataan yang mereka terima yakni hidup dan kehidupan, dengan kehalusan budi, cinta kasih, tatakrama dalam menerima sentuhan Cipta, Rasa dan KarsaNya.

Naluri adikodrati nenek moyang masyarakat Nusantara Sunda menggugah menggetarkan rasa dan pikirannya bahwa di luar fenomena hidup kehidupan ini ada daya abadi yang tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia. Salah satu menifestasi obsesi mereka adalah diwujudkannya upacara syukuran yang visualisasinya berupa produk hasil panen, padi. Padi bagi masyarakat Petani Sunda di masa lampau seperti tercermin dalam cerita klasik sastra sunda lama tidak dapat dipisahkan dengan kisah Dewi Sri yang memberikan kesuburan sebagai utusan Jabaning Langit yang turun ke Marcapada/Bumi. Pada Upacara Seren Taun inilah kisah _ kisah klasik pantun Sunda menuturkan tentang perjalanan Dewi Sri tersebut.

Kesadaran diri sebagai mahluk Tuhan dengan nilai – nilai kemanusiaan mengekspresikan kehalusan budi, cinta kasih, tatakrama, merasakan betapa murah dan kasihnya Tuhan dalam menganugrahkan hidup kehidupan dari tahun ke tahun dan dari generasi ke generasi. Maka wajar dan sepantasnya kita mensyukuri atas karunianya.

*Sumber: Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Secara keseluruhan, acara Gelar Budaya Nusantara sudah bagus. Seluruh peserta adalah masyarakat pelaku ritual yang dibawa langsung dari daerahnya masing-masing. Selain lokasinya yang jauh dari jangkauan pengunjung TMII, kurangnya publikasi menyebabkan sedikitnya pengunjung yang menyaksikan acara ini.

Berikut ini beberapa foto kegiatan acara tsb:

tes

Wukur Suryadi memainkan alat musik ciptaanya sendiri, alat musik gesek dengan bentuk bajak sawah.

Tari Topeng Losari Cirebon yang dimainkan oleh sdr. Nur Anani yang merupakan cucu sekaligus pewaris seni Tari Topeng Losari dari sang maestro Mimi Dewi Sawitri.

Tari Topeng Losari Cirebon yang dimainkan oleh sdr. Nur Anani yang merupakan cucu sekaligus pewaris seni Tari Topeng Losari dari sang maestro Mimi Dewi Sawitri.

Salah satu kegiatan dalam ritual pangan Merdang Merdem dari Batak Karo

Salah satu kegiatan dalam Ritual Merdang Merdem dari Batak Karo

Sosok jahat pada Ritual Merdang Merdem Batak Karo

Sosok jahat pada Ritual Merdang Merdem Batak Karo

Bubur ketan dan ketupat, salah satu makanan yang disajikan pada Ritual Pangan Desa Kemiren

Bubur ketan dan ketupat, salah satu makanan yang disajikan pada Ritual Pangan Desa Kemiren

Ibu-ibu wakil dari Tana Toraja

Ibu-ibu wakil dari Tana Toraja

Ritual Aluk Pare dari Tanah Toraja

Ritual Aluk Pare dari Tanah Toraja

Muang Parahu atau Ngiliratan Panyakit Padi.

Muang Parahu atau Ngiliratan Panyakit Padi, salah satu ritual dalam Bauma  Batahun dari Dayak Kanayatn

Menyembelih ayam, salah satu ritual adat Dayak Kanayatn

Menyembelih ayam, dalam salah satu ritual adat Dayak Kanayatn

Tariandalam upacara adat Dayak Kanayatn

Tariandalam upacara adat Dayak Kanayatn

Rombongan perwakilan dari Cigugur Kuningan Jawa Barat

Rombongan perwakilan dari Cigugur Kuningan Jawa Barat

Teri Buyung / Tari Kendi, tari tradisional yang biasa dipentaskan pada puncak acara Seren Taun di Cigugur Kuningan, Jawa Barat

Teri Buyung / Tari Kendi, tari tradisional yang biasa dipentaskan pada puncak acara Seren Taun di Cigugur Kuningan, Jawa Barat

Lapaaaaaaaaar...saatnya makan menu Nasi Tumpeng Bogana khas Cigugur Kuningan Jawa Barat...enyak...enyak...orang Batak di sebelah gw aje minta nambah...

Lapaaaaaaaaar…saatnya makan menu Nasi Tumpeng Bogana dari Cigugur Kuningan Jawa Barat…enyak…enyak…orang Batak di sebelah gw aje minta nambah…hahaha